GfWlGUW8TfGiBSGiTUW0GfGlGA==

Surat yang Tak Pernah Sampai



Hai, bagaiamana kabar dan keadaanmu?

Rasa-rasanya sudah cukup lama kita tidak saling kontak. Tidak saling tahu kabar masing-masing. Namun, aku mempunyai satu keyakinan teguh. Jauh disana, engkau berada dalam keadaan yang terbaik. Semoga Allah senantiasa menjaga dirimu.

Ada banyak kata yang ingin aku sampaikan kepadamu. Ada banyak cerita yang ingin aku bagi denganmu. Untuk orang sepertiku, yang sulit menaruh rasa percaya pada orang lain, aku selalu berharap akan kehadiran seseorang, yang kemudian bisa ku percayai. Kau tahu, aku selalu mampu berjam-jam diam, bahkan tanpa satu kata sekali pun.

Jika kemudian pada hari kemerdekaan diadakan lomba untuk diam. Aku rasa, aku akan jadi pemenangnya. Bahkan negara sekalipun, tidak perlu repot-repot membungkam mulutku. Aku merasa, aku adalah pendiam yang ulung.

Butuh waktu lama bagiku untuk menemukan orang sepertimu. Tidak mudah. Selama ini aku terlampau menutup diri. Pikiran-pikiranku telah menjadikan aku orang yang cukup skeptis. Orang yang cuek, dan tidak peka. Kiranya begitulah, testimoni dari segelintir teman perempuanku. Aku tidak akan memungkiri hal tersebut.

Kemudian engkau hadir, dan aku menyadari satu dua hal dalam hidup ini. Mungkin, sudah waktunya bagiku untuk membuka diri, membuka hati. Membiarkan seseorang masuk lebih jauh dalam hidupku. Tidak peduli apakah itu akan baik atau buruk, bagiku.

Bukankah hidup memang seperti itu. Selalu penuh dengan hal-hal yang tak bisa kita duga. Hari ini kita berbahagia, tetapi mungkin saja esok dan lusa kita berduka. Atau sebaliknya. Tidak ada yang tahu. Masa depan seutuhnya milik sang pencipta. Kita hanya bisa berdoa, berdoa, dan terus berdoa.

Dan benar apa yang dikatakan Sapardi dalam puisinya.

"Barangkali hidup adalah doa yang panjang."

Penyadaran Pertama

Ketika kau hadir dan perlahan masuk dan mengisi hidupku, aku merasakan hidupku jauh lebih berwarna. Ada perasaan senang dan bahagia yang tidak bisa ku lukiskan. Bahkan dengan tinta, kanvas, dan kata-kata sekali pun.

Bagaimana kemudian aku menjadi lebih mudah tersenyum, bahkan dalam kesendirian. Senyum yang ku rahasiakan dari sepasang mata Ibu. Saat itu, dunia dan seluruh kebahagiaan seolah-olah sedang memelukku.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar berharap pada seseorang. Untuk pertama kalinya, aku menginginkan sesorang hadir dan menemani hidupku.

Akan tetapi, aku telah keliru. Aku terjebak pada kebahagiaan semu. Untuk semua kebahagiaan yang sedang aku rasakan, nyatanya beberapa hal bertentangan dengan prinsip-prinsip yang ku pegang teguh selama ini. Ya, hampir-hampir saja prinsip itu runtuh.

Untunglah masih ada satu zat yang maha baik, zat yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang kemudian menegurku, menyadarkan aku. Menyadarkan semua kekeliruanku. Allah SWT.

Lewat kuasanya, dan dengan caranya yang begitu halus nan lembut. Ia, menuntunku pada sebuah cahaya kebenaran. Ia, tampakan kepadaku, bahwa yang telah ku lakukan itu salah, itu keliru. Allah masih menyayangiku. Ia tidak menginginkan aku terjerumus dalam kesalahan. Ia, menginginkan aku kembali kepadanya, pada kebenarannya. Subhanallah....

Dan boleh jadi, kau berpikir bahwa kau adalah penyebab semua itu? Tentu tidak. Sekali lagi, tidak!

Jangan pernah, sekali pun kau berpikiran semacam itu. Justru, aku benar-benar merasa bersyukur, bahwa Allah telah hadirkan engkau dalam fragmen-fragmen hidupku. Engkau adalah sumber kebahagiaan yang telah Allah turunkan kepadaku. Hanya saja aku telah salah cara dalam menggapainya.

 "Gapailah ia yang menjadi sumber kebahagian untukmu hanya denga cara yang Allah ridhoi."

 

Penyadaran Kedua

Baru-baru ini, aku baru menyadari satu hal. Sungguh, sebagai seorang manusia aku telah begitu sombong. Aku merasa diriku ini cukup baik, sehingga seperti yang kusampikan di atas, aku merasa pantas untuk Allah tolong, dan Allah hindarkan aku dari kekeliruan-kekeliruan. Astagfirullah...

Padahal, boleh jadi sebab Allah hindarkan aku dari kesalahan dan kekeliruan adalah dirimu. Allah ingin menyelamatkanmu dari diriku. Allah sedang berusaha menjagamu.

Allah ingin senantiasa menjaga kemuliaanmu sebagai seorang perempuan. Lebih mungkin, Allah sedang hindarkan engkau dari kesalahan-kesalahan yang mungkin aku lakukan kepadamu. Kesalahan dan kekeliruan yang bisa menurunkan nilai derajat kemuliaanmu sebagai seorang perempuan.

Atau Allah sedang mengabulkan doa dari orang-orang terdekatmu. Orang-orang yang selama ini menyayangimu. Yang dalam setiap sujud panjangnya senantiasa memohon kebaikan dan keselamatan bagimu.

Sungguh, terlalu sombonglah aku sebagai manusia. Mengira diri sudah menjadi pribadi yang cukup baik.

"Salah satu keburukan manusia adalah mengira dirinya telah cukup baik."

 

Keputusan

Apa pun yang kemudian akan terjadi, aku tidak akan pernah menyesal. Tidak sedikit pun. Keputusan yang kemudian ku ambil, adalah membentangkan jarak.

Ya, jarak, untuk saat ini adalah keputusan terbaik yang bisa ku pilih. Ini adalah satu-satunya cara yang kurasa aku mampu untuk melakukannya. Cara paling mudah untuk menjaga kemulianmu. Melindungi engkau dari diriku.

Sebenarnya, ada cara yang jauh lebih baik, jauh lebih mulia. Namun, pada titik saat ini aku menyadari beberapa hal dalam diriku, bahwa aku belum cukup mampu untuk mengambil pilihan tersebut. Terlalu banyak hal-hal yang menjadi pertimbangan aku.

Ah, barangkali aku terjebak dalam penilaian-penilaian pribadi yang cukup egois.

Di lain sisi, aku siap menerima semua penilaianmu. Penilaian orang-orang. Bahkan, jika itu adalah penilaian terburuk sekali pun. Sebagai seorang lelaki, mungkin aku memang pengecut. Aku tidak akan mengelak.

Aku mungkin egois pada keputusanku, ya. Namun, dengan penyadaran-penyadaran yang ku alami. Menjaga kemulian seroang perempuan itu jauh lebih penting di saat kita belum mampu untuk menggapainya, di saat kita belum mampu untuk memilikinya.

"Setiap laki-laki adalah tameng bagi kemuliaan seorang perempuan. Untuk alasan apa pun, tidak akan pernah dibenarkan, merusak kemuliaan seorang perempuan hanya untuk memenuhi kepentingan ego dan nafsu."

Yakin Pada Allah

Perlahan-lahan aku mulai belajar yakin dan berserah diri kepada Allah. Walaupun sulit, kadang jatuh bangun. Namun, aku ingin menjadi seseorang yang memiliki keyakinan kuat kepada-Nya.

Aku tidak merasa bahwa keputusan yang telah ku ambil itu, benar atau salah. Aku tidak berada di antara keduanya. Aku memilih memasrahkan semuanya kepada Allah. Allah mengetahui apa yang baik dan buruk bagiku.

Bahkan, jika keputusan yang ku pilih kemudian menghantarkan aku pada ruang kehilangan dan dilupakan. Aku berserah diri kepada Allah atas semua takdirku.

Ya, aku percaya bahwa Allah adalah perencana terbaik bagi setiap hambanya. Jika keputusan yang aku ambil adalah benar, dan Allah meridhoinya. Maka, jika Allah kemudian berkehendak, apa yang saat ini jauh, apa yang saat ini hilang dariku suatu saat pasti akan kembali kepadaku.

Lebih jauh, aku mempercayai bahwa tidak ada seorang pun yang hadir dalam kehidupanku, kecuali Allah memiliki maksud tertentu. Apakah itu sebagai ujian bagiku, atau sebagai kabar gembira untukku


"Terkadang Allah hadirkan seseorang dalam hidupmu, hanya karena Allah ingin mengajarimu arti kesabaran. Hanya karena Allah ingin menunjukan kepadamu hakikat dari keikhlasan. Atau justru sebagai kabar gembira, sebagai pendamping hidupmu. Tidak akan pernah ada yang tahu, bagaimana takdir dan skenario Allah berjalan di dalam kehidupan kita." 

Doa

Segala yang akan terjadi kepadaku, itu ada dalam kuasa dan hak prerogatifnya Allah. Tetapi, aku akan senantiasa selalu berdoa kepada-Nya, untuk segala kebaikan, baik untukku maupun untukmu.

Engkau yang jauh disana, semoga engkau selalu berada dalam lindungan Allah. Semoga Allah senantiasa meberimu kebahagian yang berlimpah. Semoga senantiasa Allah selalu menuntunmu dalam kebaikan-kebaikan-Nya.

"Tidak ada hal yang jauh lebih membahagiakan di dunia ini selain ridho Allah atas kehidupan kita."

Sekali lagi, untukmu, semoga senantiasa selalu berbahagia. Aamiin...

0Komentar

Special Ads
Special Ads